24 C
Mataram
Senin, April 12, 2021
Indonesia
1,566,995
Total Kasus
Updated on 12/04/2021 04:34
Beranda Opini Pembelahan Sosial (Catatan Kritis untuk Pilkada)*

Pembelahan Sosial (Catatan Kritis untuk Pilkada)*

Oleh :
Noval Palandi,SP
Sekretaris Umum PKS Dompu
KB PII Kab.Dompu

Menurut Peraturan KPU nomor 5 tahun 2020 Pilkada Serentak akan dilaksanakan pada tanggal 9 Desember 2020, dilaksanakan dengan tatanan kehidupan baru dengan protokol Covid-19; jaga jarak, cuci tangan, dan menggunakan masker. Standar Covid-19 dijuga mungkin yang digunakan oleh tim sukses ketika melakukan konsolidasi-konsolidasi dengan bakal calon Bupati yang akan didukung, karena semakin mendekati tahapan pilkada semakin tinggi intensitas tim sukses dan bakal calon melakukan pertemuan.

Beberapa hari terakhir juga, bermunculan di sosial media pernyataan-pernyataan sarkastik bahkan mengarah pada umpatan yang ditujukan kepada figur bakal calon bupati tertentu. Terlepas dari berniat menyindir atau tidak, pembelahan dukungan pada momentum pilkada seperti ini sangat sensitif. Berniat baik saja tidak cukup, mengutip kata-kata yang multi makna yang terjemahannya bisa baik dan bisa sedikit tidak baik bisa jadi menuai hujatan dan bully-an di media sosial.

Kalau saja hal-hal semacam itu hanya menjadi seru-seruan sebagai ekspresi menyambut pesta rakyat, sebenarnya positif, karena akan sebanyak orang yang terlibat aktif dalam mengontrol tumbuh kembang demokrasi kita menjadi lebih berkualitas.

Tetapi fenomena ini perlu juga mulai menjadi perhatian, dan mulai menjadi bahan diskusi karena ini adalah pertanda awal terjadinya pembelahan sosial yang muncul sebagai dampak dari pembelahan politik. Seringkali kita gagap menghadapi residu Pilkada, hanya karena kita terlalu euforia dengan keberpihakan terhadap paslon tertentu. Tidak dapat dipungkiri bahwa menikmati seruput kopi sembari berbicara tentang kekuatan dan kelemahan tim lawan diPilkada serta mengumpat orang-orang yang pernah satu tim terus kemudian lompat pagar adalah hal-hal yang meng-enak-an dan melalaikan. Bahkan mungkin masih ada hari ini, orang-orang yang bersumpah serapah tentang seseorang hanya karena berbeda pilihan politik. 

Bersyukurnya bahwa pembelahan politik tidak juga merambah ke pembelahan ekonomi. Disebabkan berbeda pilihan politik akhirnya berjarak secara sosial kemudian saling tidak memberi keuntungan secara ekonomi, padahal bisa jadi mereka sudah lama berkawan dalam berbagai bisnis. Ini adalah hal yang sangat absurd.

Memang sulit. Di kota-kota besar pembelahan secara politik bisa jadi tidak terlalu berdampak secara sosial karena hubungan sosial satu dengan yang lain ditempat tertentu tidak terlalu kuat. Berbeda dengan kita di Dompu, dalam perpektif sosiologis kita masih menganut sistem kekeluargaan, masih bersifat homogen, dan Memiliki hubungan yang mendalam dan erat satu sama lain meskipun tidak ada hubungan darah. Karena itu kemudian potensi pembelahan secara sosial akibat pembelahan politik jauh lebih mudah terjadi.

Sehingga hemat saya bahwa pekerjaan rumah bakal calon bupati kita selain bicara partai pengusung, visi dan misi pembangunan, konsolidasi tim, dan strategi pemenangan, juga harus menyiapkan cara efektif dalam rangka menetralisir kembali pembelahan sosial sebagai dampak dari pembelahan politik yang terjadi pasca Pilkada. Ini jauh-jauh hari, sejak awal terbentuknya tim sukses dan mengkristalnya dukungan kepada setiap calon pemimpin kita harus dibangun dan menjadi value yang difahami oleh setiap pendukung siapapun itu. Harus juga kemudian menjadi konsensus yang tersirat maupun tersurat dari semua pendukung pasangan calon.

Kalaupun memikirkan residu Pilkada adalah sebuah hal yang terlalu dini, minimal bakal calon bupati mulai mengkondisikan para fans untuk legawa terhadap setiap konstalasi politik yang bisa saja terjadi kapapun. Senior saya dulu bilang konstalasi politik bisa berubah kurang dari satu detik. Sangat cepat sekali. Sehingga pada kondisi yang semua belum bisa dipastikan seperti hari ini, kepastian pasangan, dan  dukungan partai politik, semua bisa saja terjadi, kita juga mungkin tidak bisa mengelak kemungkinan adanya kawin paksa. Dalam konteks ini seorang bakal calon bupati diuji kemampuannya untuk mengkondisikan euforia pendukungnya agar tetap menjaga prinsip keutuhan, karena sesungguhnya pilihan kita mendukung atau didukung adalah pilihan sadar atas dasar kesamaan visi untuk membangun bumi Nggahi Rawi Pahu.

Bagi saya pribadi seorang pemimpin atau bakal calon Bupati harus memprioritaskan prinsip keutuhan dari pada yang lain. Itu value yang esensial. Tidak mungkin pembangunan dapat berjalan dengan baik manakala perpecahan terjadi disebagian wilayah di Kabupaten Dompu. Tidak mungkin pembangunan bisa terkonsentrasi manakala masih ada sebagian kelompok masyarakat yang masih merasa tidak diperhatikan sebagai rakyat hanya karena sebelumnya tidak mendukung pemenang Pilkada.

Dan bagi saya menjadikan keutuhan sebagai value dan terintegrasi dalam setiap sikap pemimpin apapun termasuk bakal calon bupati dan seluruh tim sukses adalah lebih penting dari pada kemampuan lain dari seorang pemimpin. Berkumpulnya sejumlah orang-orang hebat menjadi tim sukses, kemampuan public speaking seorang pemimpin yang mampu memobilisasi massa dalam jumlah besar, kemampun retorika pemimpin dalam mengartikulasikan setiap visi dan misi pada agenda-agenda blusukan dan kunjungan kepada masyarakat, atau orasi politik yang luar biasa layaknya Soekarno dan Bung Tomo, menjadi tidak ada nilainya ketika kemenangan ataupun juga kekalahan pilkada menui pembelahan sosial yang menganga dimasyarakat.

Itu bagi saya salah satu beban yang perlu dipikirkan setiap orang sejak awal mendeklarasikan diri untuk maju menjadi calon kepala daerah. Kenapa demikian, karena sejatinya serorang pemimpin adalah seorang yang tidak berfikir dan bertindak parsial tetapi memikirkan secara menyeluruh setiap dampak dari apapun sikap yang diambil oleh seorang pemimpin yang kemudian sadar atau tidak sadar akan menjadi rujukan bagi setiap orang.

Seorang bapak bangsa Soekarno sangat menjaga keutuhan dan berpesan untuk menjauhi kekerasan. Sang proklamator pernah mengatakan “Lebih baik saya yang robek dan hancur dari pada bangsa yang harus perang saudara”. Ungkapan luar biasa ini bahkan lahir pada saat kekuasaan soekarno diambang kehancuran dan ia diusir dari istana.

Semoga kita semua menyadari bahwa keutuhan kita sebagai masyarakat Dompu yang satu menjadi sesuatu yang lebih kita kedepankan dari pada yang lain. Dan bahwa keperpihakan terhadap salah satu figur bakal calon bupati adalah cara kita sebagai masyarakat merawat demokrasi di bumi nggahi rawi pahu.

*Disadur dari website novalpalandi.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER PEKAN INI

Banjir Sudah Menelan Biaya Rp.57 Milyar, Gubernur Ajak Masyarakat NTB Membangun Kesadaran Menjaga Kelestarian Hutan

MATARAM, PELITANEWS – Sejak banjir di Kota Bima tahun 2016 lalu BPNB Untuk Kota dan Kabupaen Bima telah mengeluarkan biaya tidak kurang 57 Milyar....

Pastikan Lingkungan Pasar Wajib Masker, Polsek Pujut Tak Henti Bagikan Masker

Lombok Tengah, PELITANEWS - Dalam rangka memastikan lingkungan pasar menjadi kawasan wajib masker, personel Polsek Pujut, Polres Lombok Tengah, Polda Nusa Tenggara Barat tidak...

Relawan Sahabat Odi Kolaborasi dengan Rumah Zakat serta RKP NTB bagi Paket Pendidikan, Dan Pendampingan Anak Korban Banjir Bima

BIMA, PELITANEWS - Kesatua Aksi Mahasiswa Muslim (KAMMI) NTB , Rumah KAMMI Peduli NTB, Relawan Sahabat ODI, Rumah Zakat, Rumah KAMMI Peduli Sumbawa dan...

Jelang Hari Jadi ke 206, Pemda Dompu Gelar Dzikir dan Do’a Bersama

DOMPU, PELITANEWS - Pemerintah Daerah (Pemda) Dompu menjelang Hari Jadi Kabupaten Dompu yang ke 206 menggelar acara Doa dan Dzikir bersama di Musholah pendopo...
error: Content is protected !!