25 C
Mataram
Kamis, April 15, 2021
Indonesia
1,583,182
Total Kasus
Updated on 15/04/2021 00:10
Beranda Opini Jangan Salahkan Kami Petani Garam

Jangan Salahkan Kami Petani Garam

Oleh:
Azri Yusra

Berbicara kualitas, itu bicara tentang transformasi, bicara tentang tahapan dan proses. Tidak bisa petani yg awam soal garam industri itu dibebani rangkaian yg tidak sederhana.

Kenapa kami tidak bs disalahkan? Program integrasi lahan dari pemerintah pusat nampak sebagai upaya untuk menciptakan garam berkualitas berstandar industri, namun lihatlah kenyataanya. Dalam bahasa kami, program itu hanya sensasi tahunan. Garam hasil produksi integrasi lahan ini pd hemat kami jg diserap oleh pedagang lokal, padahal ekspektasi kami akan ada perusahaan khusus serap.

Artinya sejauh ini, program tersebut hadir di bima tdk menciptakan garam dengan spek industri melainkan garam putih yg bersih, padahal yg diharapkan ialah garam dgn NaCl tinggi.

Lalu dimana masalah implementasi program tersebut?
“Sewaktu saya ke pemangkasan, sampang dan nginap di Sumenep, pulau Madura. Saya melihat sebuah tata kelola garam yg telah beranjak dan berangsur. Lambat laun kami mengerti persoalan dan bs memahami salah satu solusinya.

Masalah implementasi program integrasi lahan itu saya formulasikan ke dua hal. Ialah (1) konsep integrasi atau penyatuan lahan yang dimaksud tidak cocok dengan topografi tambak Bima. Beda dengan Madura yang luas dan dipunyai oleh relatif satu dua orang. Integrasi lahan itu membutuhkan lahan minimal 5 ha. Sedangkan di Bima, tuan tambak jarang yang punya tambak dengan luas lahan segitu. Sewaktu program itu turun, pendekatan komunikasi Pemda juga gagap. Ialah komunikasi yang semacam bernada sumbang. Datang dengan gaya bahwa tambak-tambak petani akan disatukan ke dalam satu kawasan. Hal tersebut menimbulkan resistensi. Sebab tambak itu ada batasnya, itu menyankut warisan leluhur dan kembali akan diwariskan. Solusinya ialah, pendekatan integrasi ini ialah pada proses penuaan air. Bukan pada penyatuan tambak. Ialah dengan cara menyatukan pola sirkulasi air laut.

Dalam artian, tambak di suatu kawasan (5 ha) harus ada yang menjadi penampung air tua. Atau di sutu tambak, petani mengurangi jumlah meja garamnya dan memperbanyak tandon penuaan air. Masalah penyatuan lahan selasai.

Masalah plastik geomembran dan penuaan air. Kunci garam industri itu ialah penuaan air. Pada program integrasi lahan, petani dibagikan plastik khusus untuk menciptakn garam putih bersih. Hanya saja plastik ini dibagikan tidak banyak. Artinya petani hanya dapat segulung dua gulung yg hanya untuk dipake 6 meja garam, padahal dlm satu tambak, petani punya 10 sampe 15 meja garam. Maka secara otomatis petani mengelola air lautnya berdasrkan kebutuhan garam konsumsi. Kalau mau, fokus saja, full kan satu kawasan itu dengan platik geomembran dan pengelolaan air laut yang maksimal.

Dimana masalah garam tradisional kita? Dari pada menyalahkan kami para petani garam bima, sebaiknya Pemda memperbaiki perusahaan daerahnya agar bisa sehat dan bekerja maksimal dalam menyerap garam kami. Silahkan marahi kami jika karung-karung perusahaan daerah itu telah siap di jalan-jalan tani, apabila garam kami tidak tersedia.

Kalau boleh saya usul, sebaiknya bisnis garam skala badan usaha daerah begitu levelnya antar pelabuhan, antar perusahaan, bukan bisnis garam yudium (itu domainnya UKM dan koperasi).

Solusi garam Bima itu apa?
Solusinya itu industrialisasi, pembenahan badan usaha milik daerah dan pendekatan baru dalam produksi.

Apa itu industrialisasi? Menurut saya kata ini terlalu elitis. Saya kadang-kadang kurang nyambung dengan implementasi. Tapi sulit juga kita menemukan diksi yang lain. Jika garam bima masih kurang kualitasnya itu bukan karena para petani tidak paham cara meningkatkan kualitas, tapi dari proses rangkaian pembuatan garam industri itu siapa yang beli? BUMD Kab. Bima yg mau beli? Atau perusahaan dari jawa? Semua tidak jelas, masih mpama kalau orang kampung bilang mah. Harganya berapa?

Apa itu pendekatan baru?
Menurut kami, proses pengaraman Bima ini perlu festivalisasi. Kalau anda ke Madura, hiruk pikuk garam itu beda. Bahkan hadir dinyanyian supporter klub bola, selamat datang di pulau garam. Kita di Bima, tugu garam saja tidak punya. Padahal garam Bima itu top 10 nasional. Mungkin pemda tidak terlalu pede soal tugu karena garam kita tidak semapan Madura. Tapi mari kita coba.

Tentu masalah dan potensi garam bima ini banyak. Tidak bisa diuraikan singkat di sini, saya siapakan 15 halaman kajian ttg garam Bima. Siapalah yang mau lihat, kalau yang ada dipikiran penguasa hanyalah kekuasaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER PEKAN INI

Kepala BNPB RI : Penanganan Hutan Gundul di NTB Harus Berorientasi Kesejahteraan Masyarakat

MATARAM, PELITANEWS - Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, Doni Monardo, penanganan bencana banjir akibat alih fungsi hutan di Provinsi NTB memerlukan...

Pemprov NTB Atur Penyelenggaraan Ibadah Ramadhan Dimasa Pandemi Covid-19

MATARAM, PELITANEWS - Menjelang pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1442 Hijriah/2021 M, di tengah pandemi Covid 19, Pemerintah Provinsi NTB mengeluarkan Surat...

Bupati Dompu Akan Gelar Safari Ramadhan 1442 H

DOMPU, PELITANEWS – Bupati Dompu dan jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu akan melaksanakan kegiatan Safari Ramadhan ke semua Kecamatan di Kabupaten Dompu. Hal ini ditegaskan...

Pemda Dompu Jamin Pelayanan Publik Dibulan Ramadhan Berjalan Lancar

DOMPU, PELITANEWS - Dalam rangka menjamin pelayanan publik selama bulan ramadhan tahun 2021 Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu mengeluarkan surat edaran, senin (12/4). Surat edaran...
error: Content is protected !!