32 C
Mataram
Rabu, April 14, 2021
Indonesia
1,577,526
Total Kasus
Updated on 14/04/2021 14:17
Beranda Opini Eropa dan Dilema Integrasi Muslim

Eropa dan Dilema Integrasi Muslim

Oleh
Ilyas Yasin
Dosen dan Penulis

Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menuai kontroversi, tentu bukanlah yang pertama.

Sebelumnya sudah terdapat beberapa kasus sejenis mulai dari kasus Salman Rusdie, film ‘Fitna’ hingga karikatur yang dinilai melecehkan Islam dan karenanya menimbulkan gelombang protes kalangan muslim.

Prancis dan sejumlah negara Eropa barat sejatinya sedang menghadapi masalah terkait dengan populasi migran muslim yang terus meningkat—baik karena bekerja maupun proses kelahiran.

Ada jutaan muslim yang tinggal dan menetap di negara-negara itu. Prancis sendiri terdapat 5 juta muslim, Jerman juga hampir sama. Kalau ditotal ada sekitar 40 juta muslim di negara-negara Eropa saat ini.

Di sisi lain banyak migran India, Korea atau Cina yang sebelumnya tinggal dan bekerja memilih pulang ke negara masing-masing.

Tingkat kesejahteraan yang makin baik maupun peluang karir yang menjanjikan membuat mereka kembali ke negara asalnya. Kekosongan itu antara lain diisi oleh migran muslim.

Kasus Macron dan lainnya tengah menguji prinsip-prinsip sekularisme dan demokrasi di negara-negara Eropa. Di satu sisi sekularisme memandang agama sebagai persoalan privat tapi di sisi lain demokrasi juga menyediakan ruang kebebasan, termasuk untuk mengekspresikan sikap keberagamaan.

Eropa khawatir bahwa menguatnya gelombang islamisasi, yang berpapasan dengan kebangkitan populisme, akan mengancam sekularisme dan tradisi demokrasi yang mereka anut.

Tapi di sisi lain Eropa juga sedang memasuki “aging society” alias masyarakatnya yang terus menua. Hal itu disebabkan pertumbuhan populasi penduduknya hanya separo. Banyak warganya yang enggan menikah dan punya anak sehingga Eropa terancam mengalami loss generation.

Lapisan generasi muda usia produktif kian menipis dan sebaliknya kebanyakan mulai menua dan memasuki masa pensiun. Di taman-taman kota misalnya, yang sering terlihat adalah para generasi tua yang berkumpul dan ngopi.

Kondisi ini jelas mempersulit ketersediaan tenaga kerja produktif. Dan untuk mengisi kekosongan itu pula sehingga Eropa memutuskan menampung puluhan ribu pengungsi muslim terutama yang berasal dari negara konflik: Syiria, Iran dan Afghanistan.

Jadi, keputusan menerima pengungsi muslim tampaknya tidak semata karena pertimbangan kemanusiaan dan demokrasi tapi juga, secara implisit, karena alasan ekonomi.

Sayangnya hal tersebut juga meninggalkan efek domino. Migran muslim yang menikmati kebebasan di negara baru ternyata juga mengalami shock culture. Mereka kesulitan ketika berintegrasi dengan kultur setempat, terutama yang bersumber dari agama.

Terjadi semacam benturan antara nilai-nilai agama yang mereka anut dengan nilai dan prinsip sekularisme Barat. Misalnya larangan penggunaan atribut agama di ruang-ruang publik, sedangkan dalam keyakinan muslim hal tersebut merupakan keharusan.

Sebuah survei juga menunjukkan banyak anak muslim yang mengalami split personality dan dilema identitas: antara muslim atau warga Eropa. Secara ke dalam mereka diingkari tapi secara keluar juga tidak diakui.

Dilema seperti itulah yang tengah terjadi pada Macron dan Eropa, termasuk kebijakan keras Trumph di AS, yakni bagaimana membentengi agar prinsip-prinsip sekularisme dan demokrasi itu tetap terjaga.

Rasa keterancaman itu pula yang bisa menjelaskan kemenangan sejumlah partai berhaluan kanan di Eropa. Bahkan sejak 2015 telah ada gerakan yang secara khusus membendung arus islamisasi di Eropa.

Jadi, ketakutan dan rasa terancam oleh minoritas sebenarnya bukan hanya di Indonesia melainkan juga bisa muncul di mana saja, yakni tatkala warga ‘asli’ merasa kian terdesak oleh para pendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER PEKAN INI

Bupati Dompu Akan Gelar Safari Ramadhan 1442 H

DOMPU, PELITANEWS – Bupati Dompu dan jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu akan melaksanakan kegiatan Safari Ramadhan ke semua Kecamatan di Kabupaten Dompu. Hal ini ditegaskan...

Pemda Dompu Jamin Pelayanan Publik Dibulan Ramadhan Berjalan Lancar

DOMPU, PELITANEWS - Dalam rangka menjamin pelayanan publik selama bulan ramadhan tahun 2021 Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu mengeluarkan surat edaran, senin (12/4). Surat edaran...

Pasar Ramadhan Esot Resmi Dibuka

LOMBOK TENGAH, PELITANEWS - Pasar Ramadhan Esot 2021 yang diselenggarakan oleh Remaja Masjid Nurul Yaqin Esot, Desa Sintung, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah secara resmi...

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1442 H/2021

DOMPU, PELITANEWS - Umat Muslim mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan perdana hari ini, Selasa (13/4). Penting untuk memperhatikan jadwal imsak dan Subuh agar puasa...
error: Content is protected !!