24 C
Mataram
Senin, April 12, 2021
Indonesia
1,566,995
Total Kasus
Updated on 12/04/2021 04:34
Beranda Opini Bupati Itu Wakil Saya

Bupati Itu Wakil Saya

Oleh :
Andi Fardian
Mahasiswa Dompu yang kuliah di Fisipol UGM

Pada dasarnya, sebenarnya, yang benar adanya adalah bahwa bupati, walikota, anggota DPR mulai dari pusat sampai ke daerah itu adalah wakil saya. Saya ini ketuanya mereka. Saya ini juragannya mereka. Saya ini pimpinan mereka.

Saya adalah orang yang harus mereka layani. Bagi bupati, walikota, dan para anggota legislatif itu adalah orang-orang yang harus mencium tangan rakyat, bukan sebaliknya rakyat yang meminta-meminta kepada mereka. Kalau tidak bersedia dan tidak mampu, ya, tidak usah cari pekerjaan menjadi bupati, walikota, dan anggota legislatif. Pemimpin itu bukan ladang uang, ladang harta, dan ladang tahta, diskotik dan lubang hidup hedonis. Pemimpin itu, ya, mereka yang bersedia menderita.

Sejatinya saya ini pimpinan mereka. Mereka, ya, harus sering-sering datang sowan ke saya untuk meminta petunjuk, wangsit, dan memenuhi kemauan saya. Mereka seharusnya tanya keinginan saya ini apa, saya mau makan apa, tidur saya nyenyak apa gak. Bukan sebaliknya mereka yang memperbuncitkan perut mereka. Wakil macam apa itu? Mereka enak-enak makan, lantas saya dibiarkan lapar, tidur tidak nyenyak, dan bingung besok mau kerja apa.

Yang harus diingat oleh para wakilku itu, mereka makan, tidur, pergi ke sana, pelesir ke situ, semuanya dibayar dengan uang saya. Makanya saya sangat kecewa, manakala mereka bekerjanya gak becus gak karuan.

Saya tidak setuju kalau bupati, dll itu disebut pemerintah. Pemerintah itu identik dengan mereka yang suka perintah. Padahal yang seharusnya memerintah mereka itu, ya, saya ini. Mereka itu bekerja sesuai perintah saya. RPJMD atau apalah yang mereka sebut sebagai rencana bangun itu, ya, seharusnya dari keinginan dan kebutuhan saya. Bukan keinginan dan kolusi kelompok dan partisan. Saya pun tak setuju kalau bupati dll itu disebut government. Govern itu mengatur, kok. Yang mengatur mereka itu, ya, saya. Bukan mereka yang mengatur saya. Enak saja saya diatur. Mereka itu cuman wakil saya. Jadi, saya mau mengatur mereka dengan cara apapun, ya, terserah saya, dong. Kalau gak mau, ya, berhenti bekerja jadi wakil.

Apakah mereka itu lupa kalau sebenarnya mereka adalah wakil saya? Apakah mereka lupa kalau saya yang menggaji mereka? Sebenarnya mereka tak lupa. Mereka boleh jadi pura-pura lupa. Semoga Tuhan gak benar-benar menghilangkan ingatan mereka. Mereka tahu bahwa saya adalah pimpinan mereka. Mereka tahu betul jika mereka itu adalah wakil saya. Tapi mereka seringkali bertingkah lalu selayaknya saya sebagai pimpinan mereka. Mereka itu suka lupa diri.

Setiap kali bepergian, pintu mobil harus dibukakan, makannya disiapkan, ongkos perjalanan dibayarkan, hotelnya saya bayar. Semua dibayar dengan uang saya dan kami. Seharusnya mereka tidak lupa bahwa semua uang dipakai untuk mengurus wilayah adalah jerih payah dan peluh saya, saya, dan saya.

Pada saat musim pemilihan wakil seperti saat ini, mereka yang calon wakil itu benar-benar mencitrakan dirinya sebagai wakil yang sebenar-benarnya wakil. Apa saja mereka serahkan demi untuk menjadi wakil. Bahkan disuruh bersujudpun kemungkinan besar mereka akan mau. Ikhlas atau gaknya, saya pun gak tahu dan gak mau tahu. Mereka mau melakukan apa saja untuk mendapatkan restu dan dukungan saya. Tapi seringkali saya dikecewakan. Ketika berhasil menjadi wakil, mereka pura-pura lupa terhadap apa yang menjadi sumpah mereka. Yang awalnya suka bersilaturrahim, setelah terpilih menjadi jarang turun. Sibuk katanya. Padahal yang jauh lebih sibuk, ya, saya ini selaku bos mereka. Maka dari itu, saya mengajak saya, saya, dan saya agar lebih hati-hati dan tidak dikuasai oleh tipu daya para calon wakil kita itu.

Lagipula, jadi wakil, kok, sombong dan lupa. Nanti ingat pertanggungjawabannya berat di hadapan Tuhan kalau gak amanah. Mbok, rakyat dilayani dengan baik. Kalau gak, rakyat bisa murka dan menghukummu. Nanti kalau rakyat sudah murka, Tuhan pun ikut murka. Mau apa kalian?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

BERITA POPULER PEKAN INI

Banjir Sudah Menelan Biaya Rp.57 Milyar, Gubernur Ajak Masyarakat NTB Membangun Kesadaran Menjaga Kelestarian Hutan

MATARAM, PELITANEWS – Sejak banjir di Kota Bima tahun 2016 lalu BPNB Untuk Kota dan Kabupaen Bima telah mengeluarkan biaya tidak kurang 57 Milyar....

Pastikan Lingkungan Pasar Wajib Masker, Polsek Pujut Tak Henti Bagikan Masker

Lombok Tengah, PELITANEWS - Dalam rangka memastikan lingkungan pasar menjadi kawasan wajib masker, personel Polsek Pujut, Polres Lombok Tengah, Polda Nusa Tenggara Barat tidak...

Relawan Sahabat Odi Kolaborasi dengan Rumah Zakat serta RKP NTB bagi Paket Pendidikan, Dan Pendampingan Anak Korban Banjir Bima

BIMA, PELITANEWS - Kesatua Aksi Mahasiswa Muslim (KAMMI) NTB , Rumah KAMMI Peduli NTB, Relawan Sahabat ODI, Rumah Zakat, Rumah KAMMI Peduli Sumbawa dan...

Jelang Hari Jadi ke 206, Pemda Dompu Gelar Dzikir dan Do’a Bersama

DOMPU, PELITANEWS - Pemerintah Daerah (Pemda) Dompu menjelang Hari Jadi Kabupaten Dompu yang ke 206 menggelar acara Doa dan Dzikir bersama di Musholah pendopo...
error: Content is protected !!